Wednesday, February 12, 2014

Ide "Kapitalisme Pancasila" sebagai Transformasi Ideologi Indonesia.

Pertama.

Indonesia terlanjur di duduki oleh kekuasaan yang bukan "muhrimnya" :

Sejak 1967 praktis Indonesia sudah dalam cengkraman Neokolim. Dlm konferensinya di Geneva di putuskan antara lain: Freeport dapat gunung eMas di Irian Barat, Consorsium Eropa dapat nikel di Irian Barat dan Alcoa dapat bauksit di Riau, Bangka Belitung. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, Perancis mendapat hutan tropis di Sumatra, Kalimantan, Irian Barat, dan lain lain.. Negara kapitalis, maaf, terlanjur, menguasai bumi Nusantara..

Penguasa negeri pun mengambil jalan pintas demi dapur dan rejeki anak keturunannya sendiri, berkolusi dengan memasukkan raksasa investasi swasta dunia kedalam negeri ini sejak era Presiden kedua, .. terakumulasi tanpa ada satu presiden pun sesudahnya mampu atau berani merevisinya, .. hingga terlanjur kuat lah si Raksasa di sini. Tentu tak mungkin lagi keterlanjuran itu di hapus atau dibatalkan, meskipun perlahan, karena para Raksasa punya surat kontrak kerjasama ekonomi yang sah di mata rantai kerajaan ekonomi dunia.

(Menyikapi keterlanjuran ini percuma saja jika kita generasi masa 2014, berkutat mencari siapa yang salah, siapa yang benar, sebab situasi tidak akan berubah dengan itu. Sebab terlanjur banyak kepentingan "demi kemenangan dapur sendiri" yang saling berkait, bergenerasi-generasi. Apa mau dikata lagi? Yang salah dan yang benar sekalipun, dalam bencana kemanusiaan yang menyeluruh ini, posisinya sama. Sama-sama tak mampu mengembalikan terapan azas dasar/ideologi negara secara jujur, konsekuen dan murni. Lantas kenapa kita saling 'berbunuhan baik secara image maupun fisik' satu sama lain saudara sebangsa? Korupsi bukan penyebab rakyat negeri ini terlantar, tetapi korupsi menyuburkan laju keuntungan korporasi swasta.)

Nah, kelakuan/budaya rata-rata yang juga sebagai "efek" dan terus terestafet itu, .. termasuk korupsi .. yang mau tak mau dari para orang pinter dan punya 'kuasa' di negeri ini menyadari juga realitas itu, .. untuk ikut menggoyang keadaan, .. demi rejeki dapur dan keturunan sendiri juga, .. walau itu berarti dengan apa yang mereka lakukan, sudah merusak harkat hidup rakyatnya secara langsung dan terestafet.

Friday, February 7, 2014

There Are, We Are



Semoga berguna dan menginspirasi. Ini ada tulisan seorang kawan Wartawan yang juga Aktor Film:



Manusia 
dalam kesadaran harmonis metabolis pencernaan pemahamannya. 
Gak akan bisa melepaskan diri dari "kekotoran". 
Karena itu adalah bagian dari proses metabolisme pencernaan tubuh 
sebagai "cerminan" pemahamannya. 
Metabolisme adalah sinergi. 
Manusia adalah makhluk sempurna, 
bukankah itu berarti kotor/bersih 
atau setan dan malaikat ada sekaligus juga di satu tempat? 
Dalam sinergi selalu ada dialektika.

Ada seorang sahabat komen begini :


Sejak 1967 praktis Indonesia sudah Dalam cengkraman Neokolim, dlm konferensinya di Geneva di putuskan antara lain: Freeport dapat gunung eMas di Irian Barat, Consorsium Eropa dapat nikel di Irian Barat dan Alcoa dapat bauksit di Riau, Bangka Belitung. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, Perancis mendapat hutan tropis di Sumatra, Kalimantan, Irian Barat, dan lain lain.. Negara kapitalis, maaf, terlanjur, menguasai bumi Nusantara.

GATOT KACA


Kawan saya, Satyawira Wicaksana, mengkritik rakyat Indonesia yang sesungguhnya 'Gatot Kaca' : 

Mau tak mau serupa dan persis

Semoga kamu sabar membaca info nya ya, sebab lumayan panjang .. Begini sahabat : Menurut info dari kawan saya, seorang wartawan yang juga aktor hebat..

: Oh retorika semua dasyat beretorika, oh ini saat nya kita merendah membuka nalar sejujur-jujurnya demi tumbuhnya cinta kasih pada sesama : 

Coba kita renungkan bersama,

Mana ada kemungkinan adanya slogan 'Indonesia Baru'?



Maka, para "Spekulan kini giat menggalang rakyat yang terpesona"
demi kemenangan dapur sendiri
agar realitas iklim politik negeri ini
tetap seperti sekarang dan terestafet
ke era berikutnya,
ramai-ramai lah mereka
menunggangi sosok baik sdr. JOKOWI,
yang itu berarti tak ubahnya sekarang, detik ini,
menunggangi sisi romantisme Lambang Garuda Pancasila,
cita-cita luhur pada seluruh rakyat Indonesia..
walau kenyataan semua kebutuhan rakyat,
di semua sektornya, telah tersengaja
terkelola oleh korporasi raksasa investasi swasta dunia.
Mana mungkin itu di hapus atau di batalkan?

Kalau raksasa itu marah dan menagih hutang pada kita, bagaimana?
(..bisa-bisa ..seluruh rakyat bangsa ini semakin jadi budak di negerinya sendiri..)
Mana ada Indonesia Baru?

Apa mau di kata,
jika nalar semua rakyat negeri ini rata-rata
dapat jatuh di lubang yang sama
justru berulang kali ..




( "istilah "wani piro", kalimat pertanyaan itu awalnya terasa sekedar canda, namun lama kelamaan seperti ejekan, bahwa yang menjual Indonesia ini adalah orang Jawa. Itu menurut saya .. )



Gerilya nalar, ada nulis begini banyak-banyak via internet.


Menurut info dari kawan saya, seorang wartawan yg juga aktor hebat ..

: Oh jiwa yang Agung ! 
Kami meratap memohon belas kasih MU di siang dan malam.
Namun jua upaya kami anak beranak cucu mencari nafkah
tak urung harus tergantung
bagaimana kebijakan politik ekonomi
negeri tempat kami tinggal. 

Dulu, sebelum korporasi raksasa Swasta dunia datang ke Negeri ini.. 

"30 tahun yang akan datang, negeri kami yg konon berazas dasar negara Kerakyatan ini, akan kedatangan raksasa2 investasi swasta, maka dari sekarang mulai di laksanakan mutu kurikulum pendidikan yang nanti menghasilkan cara pandang dan mentalitas kualitas rendah banyak-banyak demi tersedianya pekerja pelayan raksasa swasta itu"..

(Oleh sebab itu sekarang ada istilah negara eksportir TKI? )