Pertama.
Indonesia terlanjur di duduki oleh kekuasaan yang bukan "muhrimnya" :
Sejak 1967 praktis Indonesia sudah dalam cengkraman Neokolim. Dlm konferensinya di Geneva di putuskan antara lain: Freeport dapat gunung eMas di Irian Barat, Consorsium Eropa dapat nikel di Irian Barat dan Alcoa dapat bauksit di Riau, Bangka Belitung. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, Perancis mendapat hutan tropis di Sumatra, Kalimantan, Irian Barat, dan lain lain.. Negara kapitalis, maaf, terlanjur, menguasai bumi Nusantara..
Penguasa negeri pun mengambil jalan pintas demi dapur dan rejeki anak keturunannya sendiri, berkolusi dengan memasukkan raksasa investasi swasta dunia kedalam negeri ini sejak era Presiden kedua, .. terakumulasi tanpa ada satu presiden pun sesudahnya mampu atau berani merevisinya, .. hingga terlanjur kuat lah si Raksasa di sini. Tentu tak mungkin lagi keterlanjuran itu di hapus atau dibatalkan, meskipun perlahan, karena para Raksasa punya surat kontrak kerjasama ekonomi yang sah di mata rantai kerajaan ekonomi dunia.
(Menyikapi keterlanjuran ini percuma saja jika kita generasi masa 2014, berkutat mencari siapa yang salah, siapa yang benar, sebab situasi tidak akan berubah dengan itu. Sebab terlanjur banyak kepentingan "demi kemenangan dapur sendiri" yang saling berkait, bergenerasi-generasi. Apa mau dikata lagi? Yang salah dan yang benar sekalipun, dalam bencana kemanusiaan yang menyeluruh ini, posisinya sama. Sama-sama tak mampu mengembalikan terapan azas dasar/ideologi negara secara jujur, konsekuen dan murni. Lantas kenapa kita saling 'berbunuhan baik secara image maupun fisik' satu sama lain saudara sebangsa? Korupsi bukan penyebab rakyat negeri ini terlantar, tetapi korupsi menyuburkan laju keuntungan korporasi swasta.)
Nah, kelakuan/budaya rata-rata yang juga sebagai "efek" dan terus terestafet itu, .. termasuk korupsi .. yang mau tak mau dari para orang pinter dan punya 'kuasa' di negeri ini menyadari juga realitas itu, .. untuk ikut menggoyang keadaan, .. demi rejeki dapur dan keturunan sendiri juga, .. walau itu berarti dengan apa yang mereka lakukan, sudah merusak harkat hidup rakyatnya secara langsung dan terestafet.
Indonesia terlanjur di duduki oleh kekuasaan yang bukan "muhrimnya" :
Sejak 1967 praktis Indonesia sudah dalam cengkraman Neokolim. Dlm konferensinya di Geneva di putuskan antara lain: Freeport dapat gunung eMas di Irian Barat, Consorsium Eropa dapat nikel di Irian Barat dan Alcoa dapat bauksit di Riau, Bangka Belitung. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, Perancis mendapat hutan tropis di Sumatra, Kalimantan, Irian Barat, dan lain lain.. Negara kapitalis, maaf, terlanjur, menguasai bumi Nusantara..
Penguasa negeri pun mengambil jalan pintas demi dapur dan rejeki anak keturunannya sendiri, berkolusi dengan memasukkan raksasa investasi swasta dunia kedalam negeri ini sejak era Presiden kedua, .. terakumulasi tanpa ada satu presiden pun sesudahnya mampu atau berani merevisinya, .. hingga terlanjur kuat lah si Raksasa di sini. Tentu tak mungkin lagi keterlanjuran itu di hapus atau dibatalkan, meskipun perlahan, karena para Raksasa punya surat kontrak kerjasama ekonomi yang sah di mata rantai kerajaan ekonomi dunia.
(Menyikapi keterlanjuran ini percuma saja jika kita generasi masa 2014, berkutat mencari siapa yang salah, siapa yang benar, sebab situasi tidak akan berubah dengan itu. Sebab terlanjur banyak kepentingan "demi kemenangan dapur sendiri" yang saling berkait, bergenerasi-generasi. Apa mau dikata lagi? Yang salah dan yang benar sekalipun, dalam bencana kemanusiaan yang menyeluruh ini, posisinya sama. Sama-sama tak mampu mengembalikan terapan azas dasar/ideologi negara secara jujur, konsekuen dan murni. Lantas kenapa kita saling 'berbunuhan baik secara image maupun fisik' satu sama lain saudara sebangsa? Korupsi bukan penyebab rakyat negeri ini terlantar, tetapi korupsi menyuburkan laju keuntungan korporasi swasta.)
Nah, kelakuan/budaya rata-rata yang juga sebagai "efek" dan terus terestafet itu, .. termasuk korupsi .. yang mau tak mau dari para orang pinter dan punya 'kuasa' di negeri ini menyadari juga realitas itu, .. untuk ikut menggoyang keadaan, .. demi rejeki dapur dan keturunan sendiri juga, .. walau itu berarti dengan apa yang mereka lakukan, sudah merusak harkat hidup rakyatnya secara langsung dan terestafet.




