Thursday, February 13, 2014

RAKYAT INDONESIA bukan rakyat yang bodoh?



Bla .. Bla .. Bla .. begitulah selama ideologi negeri ini tidak sesuai dgn realitas korporasi raksasa investasi swasta yg merebak dimana-mana menguasai tanah negeri .. menguasai semua sektor kebutuhan hidup rakyatnya .. maka pendidikan politik bagi para pejabat negara adalah "yg Berkuasa, yang Enak namun, tetap upayakan agar Nalar Dangkal Rakyat dapat lebih bertahan lama".

Wednesday, February 12, 2014

Galang

ya, bersatulah semua kita, 
sesama saudara sebangsa, 
bersama bersuara bersatu tolak ! 

Ide "Kapitalisme Pancasila" sebagai Transformasi Ideologi Indonesia.

Pertama.

Indonesia terlanjur di duduki oleh kekuasaan yang bukan "muhrimnya" :

Sejak 1967 praktis Indonesia sudah dalam cengkraman Neokolim. Dlm konferensinya di Geneva di putuskan antara lain: Freeport dapat gunung eMas di Irian Barat, Consorsium Eropa dapat nikel di Irian Barat dan Alcoa dapat bauksit di Riau, Bangka Belitung. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, Perancis mendapat hutan tropis di Sumatra, Kalimantan, Irian Barat, dan lain lain.. Negara kapitalis, maaf, terlanjur, menguasai bumi Nusantara..

Penguasa negeri pun mengambil jalan pintas demi dapur dan rejeki anak keturunannya sendiri, berkolusi dengan memasukkan raksasa investasi swasta dunia kedalam negeri ini sejak era Presiden kedua, .. terakumulasi tanpa ada satu presiden pun sesudahnya mampu atau berani merevisinya, .. hingga terlanjur kuat lah si Raksasa di sini. Tentu tak mungkin lagi keterlanjuran itu di hapus atau dibatalkan, meskipun perlahan, karena para Raksasa punya surat kontrak kerjasama ekonomi yang sah di mata rantai kerajaan ekonomi dunia.

(Menyikapi keterlanjuran ini percuma saja jika kita generasi masa 2014, berkutat mencari siapa yang salah, siapa yang benar, sebab situasi tidak akan berubah dengan itu. Sebab terlanjur banyak kepentingan "demi kemenangan dapur sendiri" yang saling berkait, bergenerasi-generasi. Apa mau dikata lagi? Yang salah dan yang benar sekalipun, dalam bencana kemanusiaan yang menyeluruh ini, posisinya sama. Sama-sama tak mampu mengembalikan terapan azas dasar/ideologi negara secara jujur, konsekuen dan murni. Lantas kenapa kita saling 'berbunuhan baik secara image maupun fisik' satu sama lain saudara sebangsa? Korupsi bukan penyebab rakyat negeri ini terlantar, tetapi korupsi menyuburkan laju keuntungan korporasi swasta.)

Nah, kelakuan/budaya rata-rata yang juga sebagai "efek" dan terus terestafet itu, .. termasuk korupsi .. yang mau tak mau dari para orang pinter dan punya 'kuasa' di negeri ini menyadari juga realitas itu, .. untuk ikut menggoyang keadaan, .. demi rejeki dapur dan keturunan sendiri juga, .. walau itu berarti dengan apa yang mereka lakukan, sudah merusak harkat hidup rakyatnya secara langsung dan terestafet.

Friday, February 7, 2014

There Are, We Are



Semoga berguna dan menginspirasi. Ini ada tulisan seorang kawan Wartawan yang juga Aktor Film:



Manusia 
dalam kesadaran harmonis metabolis pencernaan pemahamannya. 
Gak akan bisa melepaskan diri dari "kekotoran". 
Karena itu adalah bagian dari proses metabolisme pencernaan tubuh 
sebagai "cerminan" pemahamannya. 
Metabolisme adalah sinergi. 
Manusia adalah makhluk sempurna, 
bukankah itu berarti kotor/bersih 
atau setan dan malaikat ada sekaligus juga di satu tempat? 
Dalam sinergi selalu ada dialektika.

Ada seorang sahabat komen begini :


Sejak 1967 praktis Indonesia sudah Dalam cengkraman Neokolim, dlm konferensinya di Geneva di putuskan antara lain: Freeport dapat gunung eMas di Irian Barat, Consorsium Eropa dapat nikel di Irian Barat dan Alcoa dapat bauksit di Riau, Bangka Belitung. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, Perancis mendapat hutan tropis di Sumatra, Kalimantan, Irian Barat, dan lain lain.. Negara kapitalis, maaf, terlanjur, menguasai bumi Nusantara.

GATOT KACA


Kawan saya, Satyawira Wicaksana, mengkritik rakyat Indonesia yang sesungguhnya 'Gatot Kaca' : 

Mau tak mau serupa dan persis

Semoga kamu sabar membaca info nya ya, sebab lumayan panjang .. Begini sahabat : Menurut info dari kawan saya, seorang wartawan yang juga aktor hebat..

: Oh retorika semua dasyat beretorika, oh ini saat nya kita merendah membuka nalar sejujur-jujurnya demi tumbuhnya cinta kasih pada sesama : 

Coba kita renungkan bersama,